Memuat...
--:--:--
Adaptive
Memuat inspirasi terbaru...

Pencarian Informasi Pada Website Ini

Hasil langsung muncul saat mengetik

Tim Liputan Sorot Blambangan Menjelajahi Perbedaan Keboan Aliyan dan Kebo-Keboan Alasmalang di Banyuwangi

Menyusuri Jejak Keboan Aliyan dan Kebo-Keboan Alasmalang: Dua Wajah Syukur Petani Osing Banyuwangi

šŸ“… 20 Oktober 2020 ✍️ Tim Liputan Sorot Blambangan šŸ“ Banyuwangi, Jawa Timur

Di ujung timur Pulau Jawa, Banyuwangi menyimpan lebih dari sekadar keindahan Gunung Ijen dan pantai eksotis. Di balik hamparan sawah dan kebun, masyarakat Suku Osing masih teguh melestarikan tradisi leluhur yang sarat makna. Dua di antaranya adalah Keboan Aliyan di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, dan Kebo-Keboan Alasmalang di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh—dua ritual syukur panen yang mirip secara filosofi, namun berbeda dalam tata cara dan nuansa pelaksanaannya.

Kedua tradisi ini bukan sekadar atraksi budaya. Mereka adalah ekspresi spiritual petani Osing dalam mengungkapkan rasa terima kasih kepada Sang Pencipta, sekaligus doa agar hasil bumi tetap melimpah dan terhindar dari hama serta wabah penyakit.

Akar Sejarah: Dari Wangsit hingga Tradisi Abadi

Menurut catatan sejarah lisan, tradisi Kebo-Keboan pertama kali muncul pada abad ke-18 Masehi di Desa Alasmalang, saat warga dilanda wabah penyakit dan serangan hama yang merusak tanaman. Seorang sesepuh bernama Mbah Karti mendapat petunjuk melalui semedi: warga harus menggelar syukuran akbar dengan para petani berperan sebagai kerbau—hewan yang dianggap simbol ketulusan dan pengorbanan dalam pertanian—untuk memuliakan Dewi Sri, dewi padi dan kemakmuran.

Sementara di Desa Aliyan, tokoh yang mendapat wangsit adalah Mbah Wongso Kenongo dan anaknya, Joko Pekik. Setelah bermeditasi, Joko Pekik bertingkah seperti kerbau sambil berguling-guling di sawah. Ajaibnya, usai ritual tersebut, hama dan wabah lenyap, dan panen kembali melimpah. Sejak saat itu, kedua desa melanjutkan tradisi ini secara turun-temurun sebagai bentuk syukur dan tolak bala.

šŸ“Œ Fakta Singkat Kebo-Keboan Banyuwangi
• Digelar sekali setahun pada bulan Suro (Muharam) dalam penanggalan Jawa.
• Diikuti oleh masyarakat Suku Osing, kelompok etnis asli Banyuwangi.
• Bertujuan sebagai wujud syukur, tolak bala, dan pelestarian kearifan lokal agraris.
• Telah menjadi bagian dari Banyuwangi Festival dan menarik ribuan wisatawan setiap tahunnya.

Perbedaan Utama: Aliyan vs Alasmalang

Meski sama-sama berakar dari filosofi syukur dan tolak bala, kedua ritual ini memiliki ciri khas yang membedakan:

Keboan Aliyan cenderung lebih meriah dan partisipatif. Pemilihan pemeran "kerbau" dilakukan melalui proses spiritual: calon peserta dipercaya kerasukan roh leluhur sehari sebelum acara, lalu bertingkah layaknya kerbau. Kostum yang digunakan berwarna-warni, dihiasi umbul-umbul dari hasil panen seperti padi, jagung, dan tebu. Ritual juga mencakup pembuatan kubangan lumpur tempat para "kerbau" berguling-guling, simbol penyatuan manusia dengan alam.

Sementara Kebo-Keboan Alasmalang memiliki nuansa lebih sakral dan terstruktur. Pemeran dipilih langsung oleh ketua adat, bukan melalui kesurupan. Kostumnya didominasi warna hitam, menyerupai kerbau sungguhan dengan tata rias wajah khas. Rangkaian acara diawali dengan selamatan 12 tumpeng—melambangkan 12 bulan dalam setahun—dilanjutkan arak-arakan mengelilingi empat penjuru desa, dan diakhiri dengan ngurit, yaitu pemberian benih padi kepada petani untuk ditanam.

"Keboan Aliyan dan Kebo-Keboan Alasmalang adalah dua ekspresi budaya yang lahir dari satu akar: rasa syukur petani Osing. Perbedaannya bukan pada makna, tapi pada cara menyampaikan doa itu kepada Yang Kuasa."
Pakar Budaya Banyuwangi

Dari segi musik, Aliyan lebih dominan menggunakan gendang dan terompet khas Banyuwangi yang energik, sementara Alasmalang mengandalkan kentongan dan tetabuhan bambu yang menghasilkan irama lebih khidmat dan mistis. Perbedaan ini mencerminkan karakter masing-masing komunitas: Aliyan yang lebih terbuka dan komunal, Alasmalang yang lebih menjaga tradisi leluhur secara ketat.

šŸŽ„ Dokumentasi: Suasana Keboan Aliyan & Kebo-Keboan Alasmalang

Kini, tradisi Keboan tidak hanya menjadi milik masyarakat lokal. Ribuan wisatawan domestik maupun mancanegara turut hadir setiap tahunnya, menjadikan ritual ini bagian dari daya tarik wisata budaya Banyuwangi. Yang membanggakan, generasi muda Osing juga aktif terlibat—baik sebagai peserta, panitia, maupun kreator konten yang mendokumentasikan tradisi ini di media sosial.

Di tengah arus modernisasi, Keboan Aliyan dan Kebo-Keboan Alasmalang membuktikan bahwa budaya leluhur bisa tetap relevan: tidak hanya sebagai warisan, tapi juga sebagai sumber identitas, kebanggaan, dan kekuatan komunitas.

Laporan: Tim Liputan Sorot Blamabangan Prakerin MISNTV| Verifikasi Fakta: Redaksi | © 2020
Artikel ini disusun berdasarkan riset lapangan dan literasi budaya. Dilarang memperbanyak tanpa izin.

šŸ“– Postingan Terkait

  • Memuat...
Beranda Sitemap

Fitur Unduh Halaman